Sarcasm

Seriously, these days? I don’t live not in between sarcasm. Everyday they come around and around as if they are the air that I breath. Masuk ke paru-paru saya, melingkupi jantung saya dan melekat disana setiap hari.

Tidak semudah dan segampang itu menjadi seorang yang tiba-tiba sarkastik. Hal tersebut dapat diamini dengan adanya faktor lingkungan yang mendukung. Biasanya entah dari lingkungan yang terlalu banyak harapan dengan si subjek atau dengan terlalu banyaknya tanggapan miring dan akhirnya menjadi sebuah momok yang harus dilawan dengan hal yang sama.

“Jangan ngelakuin hal yang sama, kalo lo ga mau dibilang sama”. Kata-kata itu sering dilontarkan oleh beberapa teman dekat yang menyadari tingkat kesarkastikan saya yang cukup tinggi.

Faktor film juga dapat mempengaruhi saya. Memang globalisasi dunia akan gempuran-gempuran budaya barat cukup merubah pola pikir saya yang tadinya polos, mudah dibodohi menjadi sesosok yang sarkastik, preventif dan feeling so much insecure. Salah satu tokoh sarkastik yang cukup memberikan pengaruh besar dalam hidup saya adalah Dr. House. Ini merupakan film seri. People always think if he’s nothing. Underestimate him. Then they make other people think that he is an inside cruel. Implicitly smart while on the other hand he is always been cut out. Salah satu keingininan saya adalah menjadi seorang sarkastik yang smart. Beralasan kuat namun tetap membuat lawan bicara berfikir dengan hati-hati.

Apa sebenarnya sarkastik itu? Kalau diambil dari wikipedia:

Sarcasm is “a sharp, bitter, or cutting expression or remark; a bitter jibe or taunt“,[1] usually conveyed through irony or understatement.[2] Most authorities distinguish sarcasm from irony;[3] however, others argue that sarcasm may or often does involve irony[4] or employs ambivalence.[5]

Jelas kalo menjadi sarkastik itu adalah hal yang negatif. Bisa menjatuhkan diri sendiri dan menjauhkan diri dari orang lain. Tapi yang seperti saya nyatakan pada awalnya saya tidak menjadi sarkastik tanpa alasan.

Some people may think they were just joking around. But definitely they should think before they joke. Ada beberapa alasan yang seharusnya tidak diungkapkan apabila ada satu hal yang menyinggung masalah pribadi. Sesuatu yang sangat personal. A kidding friend won’t kid about something that shouldnt be kid of between the friendship instead. Siapa yang tidak akan marah apabila hal yang personal, yang sudah sama-sama tahu dibuat bercanda? Dari sanalah sarkasme muncul. Dari sanalah pemicu untuk melawan sesuatu yang menghina ada. Menjadi sarkastik.

Tulisan ini hanya selewat saja. Buah pikiran yang sedang menjadi lika-liku di dalam otak saya.

Selamat malam.

Iklan

Satu pemikiran pada “Sarcasm

  1. tulisan yang bagus 😀
    saya setuju dengan Anda.
    menurut saya sebenarnya sarcastic itu lebih mendekati keterusterangan,
    ke-sarcastic-an saya juga dipengaruhi dari film barat, juga teman-teman dari luar negeri yang iseng-iseng sering saya dengerin pembicaraan mereka (baca:nguping). lol
    tapi menurut saya itu bukan sesuatu yang buruk, toh saya lebih suka menjadi orang yang jujur, hanya seperti apa pembawaan kita ke orang lain.
    bagaimanapun sahabat saya sih lama-lama juga terbiasa dengan sifat saya yang satu ini. hehehe.
    ngomong-ngomong apakah golongan darah Anda B?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s